Biografi
BIOGRAFI
Anindhita Sovina Malika-07-7B
Tentang Diriku
Assalamualaikum wr. wb. Perkenalkan namaku Anindhita Sovina Malika, aku biasanya dipanggil 'Ninda'. Aku lahir di Bogor, 9 Desember 2012.
Anindhita artinya berbudi luhur dalam bahasa jawa, atau bisa juga diartikan sempurna dalam bahasa arab. Sovina diambil dari bahasa Spanyol, artinya berkharisma. Malika artinya ratu/permaisuri. Harapan orangtuaku memberi nama tersebut adalah karna mereka ingin anak perempuannya menjadi putri yang berbudi luhur dan memiliki pesona kharisma.
Aku adalah anak yang ceria, ramah, dan disiplin. Kelebihanku adalah aku adalah orang yang suka mencoba hal baru, dan mudah beradaptasi. Aku bersekolah di Sekolah Islam Al-Falaah. Selama bersekolah di SD Islam Al-Falaah, aku telah meraih beberapa prestasi, mengikuti 3 Olimpiade Bahasa Inggris tingkat provinsi, dan Olimpiade Matematika tingkat kota. Aku juga menjadi wakil ketua pramuka garuda di SD Islam Al-Falaah, dan menjadi koordinator kelas dalam organisasi paskibra sekolah. Sekarang aku bersekolah di SMP Labschool Kebayoran, di kelas 7B.
Aku dilahirkan di keluarga yang harmonis, ayahku bernama Jamaluddin dan ibuku Ika Rafika Sulistyorini. Aku juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Jasmine Sofia Izzatunnisa. Menurutku, keluargaku sempurna. Ayahku adalah sosok yang berani, ibuku adalah sosok yang penyayang, dan kakakku, walaupun kadang suka jahil, tapi kami sangat dekat.
Ayahku
Ayahku lahir pada tanggal 6 Februari 1983 di Jakarta. Ia terlahir di keluarga yang tidak terlalu harmonis, namun ia bertekad untuk merubah hal tersebut dengan menciptakan keluarganya sendiri yang lebih hangat. Menurutku, ayahku adalah orang yang paling kuat di saat semua orang hancur, dia tetap tegar dan akan menenangkan kami, walaupun sebenarnya dia juga hancur. Karena ayahku lahir di keluarga yang kurang harmonis, dia adalah orang yang tidak banyak bicara, dan tidak ekspresif, kadang aku merasa kesal akan hal tersebut, namun dibalik itu semua, ia adalah orang yang perhatian tapi tidak menunjukkannya.
Ayah selalu menjadi panutanku. Dia sering bercerita tentang masa kecilnya yang bisa dibilang gila, aku sangat suka mendengarnya bercerita. Walaupun ayah adalah orang yang pendiam, tapi dia selalu mengasah kemampuan public speaking. Dia sering menjuarai lomba debat Bahasa Inggris di kampusnya. Ayah selalu tahu segalanya, apapun akan aku tanyakan pada ayah. Ayahku adalah pahlawanku.
Ibuku
Ibuku lahir pada tanggal 21 September 1983 di Banyumas. Ia terlahir di keluarga yang harmonis. Menurutku ibuku adalah orang yang tak kenal lelah, setelah bekerja ia masih harus mengurus aku, ayahku dan kakakku. Namun ia tidak pernah mengeluh sekalipun. Ibuku adalah orang yang penyabar dan perhatian, ia adalah tempat aku berkeluh kesah tentang apapun. Kadang, ibuku bisa marah karena lelah, tapi aku mengerti bahwa itu semua tanda dia sayang.
Ibuku adalah orang yang senang bersosialisasi, berbeda dengan ayahku. Lucunya, kadang ibuku juga jadi sering ikut ayahku yang suka ketenangan. Ibu dan ayahku suka berdebat kecil, biasanya karena ibuku ingin jalan-jalan di akhir pekan, tapi ayah lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah.
Ibu juga yang mengajariku percaya diri. Dulu, ibuku sering mengikuti kompetisi fashion show. Itu juga yang membuatnya sedikit cerewet soal penampilan. Baju harus begini dan begitu, tetapi aku senang karena seleranya selalu bagus. Kadang, aku sedikit kesal karena ibuku juga suka mengomentari caraku berjalan, duduk, atau makan. Jalan tidak boleh bungkuk, duduk harus rapi, dan makan harus elegan. Ibuku inspirasiku.
Kakakku
Kakakku bernama Jasmine Sofia Izzatunnisa, ia lahir pada tanggal 2 September 2011 di Jakarta. Menurutku kakakku adalah orang yang tengil dan aneh, ia seringkali menjahiliku untuk kesenangannya. Seringkali aku kesal akan sikapnya, namun terkadang ia menunjukkan sikap bahwa ia sebenarnya peduli denganku. Kakakku adalah orang yang tidak banyak bicara namun peduli terhadapku. Kakakku juga yang menginspirasiku untuk bersekolah di SMP Labschool Kebayoran. Suatu saat, aku juga ingin menjadi bagian dari OSIS/MPK seperti kakakku.
Kakakku sangat mirip dengan ayah, tidak banyak bicara. Mungkin itu yang kupikir dulu, tetapi setelah aku melihat dia di sekolah, sepertinya dia cerewet juga. Kakak memang jarang bicara, tetapi suka menulis. Aku sering kagum karena tata bahasanya yang rapi, aku tahu kakak pasti belajar dari ayah. Waktu SD, kakak sering membantuku dalam pelajaran bahasa dan seni. Soal gambar dan menulis, kakakku ahlinya, persis seperti ayah.
Kakak orangnya suka bercanda. Tapi, aku juga takut kalau dia sedang marah. Dia bahkan lebih seram dari ayah. Padahal, dia tidak melakukan apapun, berbicara saja tidak. Kalau aku yang sedang marah, kakak pasti suka mengejek atau bercanda, tapi akhirnya aku akan terhibur juga.
Comments
Post a Comment